Selasa, 25 Juni 2013

Menyogok dalam Sudut Pandang Kristen



I.                    Pembahasan
Penyogokan merupakan salah satu bentuk korupsi karena menyogok berarti berusaha menutupi suatau kecurangan dengan memberikan uang tutup mulut demi kepentingan diri sendiri yang dapat ditindak pidana oleh aparat kepolisian. Di Indonesia sendiri tradisi korupsi dan suap meyuap atau sogok menyogok sudah sangat melekat pada kalangan pemerintah. Hal seolah-olah meninbulkan pertanyaan besar, bagaimana mungkin Indonesia sebagai negara yang beragama bisa menduduki peringkat pertama korupsi di dunia.
Korupsi atau sogok menyogok biasanya dimulai dengan adanya tradisi memberi hadiah kepada pejabat oleh seseorang yang memiliki kepentingan pribadi dan kesetaikawanan atau hubungan kedekatan yang mendarah daging di dalam kebudayaan orang Indonesia sendiri sehingga jika ada seseorang yang mendatangi pejabat untuk sebuah tujuan khusus dengan membawa “oleh-oleh” akan sangat sulit untuk ditolak.
Korupsi berkembang pesat di Indonesia karena dalam masyarakat Indonesia hubungan antara masyarakat masih didasarkan pada partner dan klien. Tingkah laku orang kecil akan banyak mengikuti apa yang dilakukan oleh mereka yang dianggap menjadi anutan, tanpa mempersoalkan apa yang dilakukan oleh panutan benar atau tidak, karena dalam etika lingkungan apa yang sering dilakukan dan diangap baik oleh orang-orang disekitar akan membentuk pola kepribadian kita menjadi sama seperti orang-orang disekitar kita tersebut.
Seorang kontraktor nakal yang menyuap pejabat untuk memenangkan sebuah proyek merupakan suatu bentuk kecurangan dan melanggar hukum. Dalam Roma 13:2-4 menyatakan (ayat 2)”sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya”. (ayat 4) ”Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu, tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas nereka yang berbuat jahat.”  Terlihat jelas bahwa Allah sendiri yang telah memerintahkan kita untuk patuh terhadap peraturan yang dibuat oleh pemerintah, sementara jika kontraktor nakal yang menyogok pemerintah, berarti ia bukan hanya tidak patuh tetapi ia malah menjerumuskan pemerintah kedalam dosa dan jika pemerintah yang bersangkutan pun menerima sogok yang diberikan berarti ia tidak mempertanggung jawabkan apa yang sudah dipercayakan Allah atas hidupnya, Sebab ada tertulis dalam Roma 13:1b ”sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah”.
Ada banyak hal yang mungkin mendasari seorang kontraktor terfikir untuk berbuat curang dengan menyogok pemerintah, misalnya rasa khawatir ketika ia kalah dan tidak memenangkan sebuah proyek maka ia akan mendapatkan kerugian yang sangat besar dan kemudian tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, karena dalam etika keluarga baik adanya jika seorang kepala keluarga mampu untuk memenuhi segala kebutuhan seluruh anggota keluarganya. Hal ini membuktikan adanya ketidakyakinan manusia kepada janji penyertaan Allah seperti yang tertulis pada Matius 6:25-26 ”Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akanapa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yanghendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih pentingdari pada pakaian?; Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dantidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankahkamu jauh melebihi burung-burung itu?”.
Jadi diharapkan seorang kontraktor tersebut tidak berlaku curang dengan menyogok pemerintah agar memenangkan proyek, karena sekalipun ia kalah dengan cara yang benar, Allah akan mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya.

II.                  Sikap Etis Secara Kristen Dalam mengambil Keputusan
Jika kita diperhadapkan dengan kasus diatas, keputusan yang dapat kita ambil berdasarkan dengan sikap etis kristen yaitu:
1.       Berdasarkan Kasih, artinya sebelum seorang kontraktor tersebut hendak berbuat curang ia harus menyadari bahwa jika ia mengasihi Allah dan keluarganya maka kecurangan tersebut akan mendatangkan kesia-siaan terlebih jika akhirnya perbuatan curangnya diketahui oleh aparat kepolisian sehingga ia harus mendekap di pencajara dan tidak bisa lagi menghidupi keluarga yang ia kasihi.
2.       Berdasarkan Iman, tanpa iman apapun yang kita perbuat adalah dosa (Roma 14:23). Seorang kontraktor yang mengambil keputusan berdasarkan imannya kepada Tuhan tidak akan berlaku curang demi kepentingan pribadinya, sebaliknya ia akan berlaku jujur dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan dengan satu keyakinan bahwa kalaupun ia tidak memenangkan satu proyek tersebut, Tuhan akan sediakan yang lain untuknya dan Tuhan akan tetap memelihara kehidupannya beserta keluarganya
3.       Berdasarkan Motifasi Yang Benar, benar berarti sesuai dengan norma-norma dan moral yang benar. Motifasi yang benar akan menghindarkan seorang kontraktor tersebut mengambil keputusan yang curang dan akan merugikan banyak orang karena kepentingan dirinya sendiri.
4.       Meminta Hikmat dan Pimpinan Roh Kudus, adanya Kudus dalam Kehidupan seseorang mampu untuk menghidarkannya dari perbuatan yang tidak berkenan kepada Allah dan menuntunnya dalam mengambil keputusan yang benar.
5.       Menentukan skala prioritas, artinya seorang kontraktor jika ingin memenangkan sebuah proyek dengan cara yang benar dihadapan Tuhan (tanpa kecurangan), hendaklah ia mampu untuk berlaku bijak dalam mengambil keputusan dengan menempatkan apa yang terpenting terlebih dahulu, termasuk memperhatikan kesejahteraan anak buahnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar